10 HADITS
1) Kasih Sayang
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dari Abu Hurairah r.a:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ. (رواه البخاري)
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ. (رواه البخاري)
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, aku mencintai orang ini maka cintailah dia!” Maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari)
Jika seseorang telah
dicintai oleh Allah, maka hidup ini terasa tenang, damai, dan tentram penuh
kasih sayang, perlindungan dan rahmat-Nya Ta’ala. Apa yang diminta akan diberi,
apa yang diinginkan akan terkabul. Segala kebutuhannya akan dipenuhi, dan
diakhirat mendapatkan ridho dan perlindungan-Nya dari siksa api neraka.
2) Akhlak
عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنَّ مِـمَّـا
أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ
؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”
TAKHRÎJ HADÎTS
Hadits ini shahîh diriwayatkan oleh: Al-Bukhâri (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abû Dâwud (no. 4797), Ibnu Mâjah (no. 4183), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayâlisi (no. 655), dan Ibnu Hibbân (no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân).
Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”
TAKHRÎJ HADÎTS
Hadits ini shahîh diriwayatkan oleh: Al-Bukhâri (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abû Dâwud (no. 4797), Ibnu Mâjah (no. 4183), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayâlisi (no. 655), dan Ibnu Hibbân (no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu
berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal
dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya
hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula
dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh
seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu
menjadi lebih sempurna. Kesimpulan definisi di atas ialah bahwa malu adalah
akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan
perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi
seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak
orang lain.
FAWÂÎD HADÎTS
1. Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi terdahulu.
2. Sifat malu semuanya terpuji dan senantiasa disyari’atkan oleh para Nabi terdahulu.
3. Hadits ini menunjukkan bahwa malu itu seluruhnya baik. Barangsiapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikannya dan manfaatnya lebih menyeluruh. Dan barangsiapa yang sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.
4. Malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.
5. Malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebenaran adalah malu yang tercela.
6. Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.
7. Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa' (setia).
8. Malu adalah bagian dari iman yang wajib.
9. Orang-orang Jahiliyyah dahulu memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari mengerjakan sebagian perbuatan jelek.
10. Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu.
11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.
12. Malaikat mempunyai sifat malu.
13. Lawan dari malu adalah tidak tahu malu (muka tembok), ia adalah perangai yang membawa pemiliknya melakukan keburukan dan tenggelam di dalamnya serta tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ.
Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan.[34]
1. Malu adalah salah satu wasiat yang disampaikan oleh para Nabi terdahulu.
2. Sifat malu semuanya terpuji dan senantiasa disyari’atkan oleh para Nabi terdahulu.
3. Hadits ini menunjukkan bahwa malu itu seluruhnya baik. Barangsiapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikannya dan manfaatnya lebih menyeluruh. Dan barangsiapa yang sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.
4. Malu adalah sifat yang mendorong pemiliknya untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk.
5. Malu yang mencegah seseorang dari menuntut ilmu dan mencari kebenaran adalah malu yang tercela.
6. Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu.
7. Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa' (setia).
8. Malu adalah bagian dari iman yang wajib.
9. Orang-orang Jahiliyyah dahulu memiliki rasa malu yang mencegah mereka dari mengerjakan sebagian perbuatan jelek.
10. Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu dan menyukai sifat malu serta mencintai hamba-hamba-Nya yang pemalu.
11. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.
12. Malaikat mempunyai sifat malu.
13. Lawan dari malu adalah tidak tahu malu (muka tembok), ia adalah perangai yang membawa pemiliknya melakukan keburukan dan tenggelam di dalamnya serta tidak malu melakukan maksiat secara terang-terangan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أُمَّـتِيْ مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ.
Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan.[34]
3) Jual Beli
·
Jual beli anjing, kucing dan
darah
Dari Abu Mas’ud Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata,
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِىِّ
وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam melarang hasil
penjualan anjing, penghasilan pelacur dan upah
perdukunan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
[Bukhari: 39-Kitab Al Buyu’, 112-Hasil Penjualan Anjing. Muslim: 23-Kitab Al
Masaqoh, 9-Bab Haramnya Hasil Penjualan Anjing, upah perdukunan, upah pelacur,
penjualan kucing]
·
Jual beli al hashah dan
gharar
Hadits ibnumajah 2185
حَدَّثَنَا
مُحْرِزُ بْنُ سَلَمَةَ الْعَدَنِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ
عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ
بَيْعِ الْغَرَرِ وَعَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ
melarang
jual beli gharar (menimbulkan kerugian bagi orang lain) & jual beli hashah.
[HR. ibnumajah No.2185].
·
Jangan berebut membeli dan
meminang
|
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لا يَبِعِ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيْهِ وَلا يَخْطُبُ عَلَى خِطْبَةِ أُخِيْهِ اِلا اَنْ يَأْ ذَنَ لَهُ |
|
Dari
Ibnu Umar r.a. katanya :
"Rasulullah s.a.w. bersabda : "Janganlah seorang membeli barang yang dibeli oleh saudaranya dan janganlah meminang perempuan yang dalam pinangan saudaranya, kecuali kalau telah diizinkan (oleh peminang yang pertama) |
|
Hadis
sahih riwayat Muslim
|
·
Perkara-perkara terlarang
|
عَنِْ
أَبِى هُرَيْرَةَ
ان رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نَهَى عَنِ التَّلَقَى لِلرُّكْبَانِ وَأَنْ يَبِيْعَ حَا ضِرٌلِبَادٍ وَأَنْ تَسْأَلَ الْمَرْأَةُ طَلَقَ أُخْتِهَا وَعَنِ النَّجَش ِ وَالتَّضْرِيَةِ وَأَنْ يَسْتَامَ الرَّجُلُ عَلى سَومِ أَخيهِ |
|
Dari
Abu Hurairah r.a. katanya :
"Bahawa Rasulullah s.a.w. melarang menyongsang penjual yang datang dari dusun (di luar pasar), untuk membeli barangnya, melarang orang kota membeli barang dari orang dusun (sebelum orang dusun itu mengetahui harga pasaran), melarang seorang perempuan menuntut kepada suaminya supaya madu diceraikan, menawar dengan harga yang mahal (untuk menarik pembeli supaya membelinya dengan harga yang mahal), menipu, membesarkan bendala (tidak diperah selama beberapa hari) dan menawar barang ketika sedang ditawar oleh saudaranya." |
|
Hadis
sahih riwayat Muslim
|
4) Pegadaian
5) وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اَللَّهِ : اَلظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ
مَرْهُونًا, وَلَبَنُ اَلدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا,
وَعَلَى اَلَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ اَلنَّفَقَةُ .. رَوَاهُ
اَلْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu
'anhu bahwa RasulullahShallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Punggung hewan yang digadaikan boleh dinaiki dengan membayar dan susu
hewan yang digadaikan boleh diminum dengan membayar. Bagi orang yang menaiki
dan meminumnya wajib membayar." Riwayat Bukhari.
5) Syirkah
HR Abu Dawud Kitab Al Buyu’ dari Abu
Hurairah:
6) عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ قَالَ إِنَّ اللهَ يَقُولُ أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا
لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا * (تحقيق الألباني : ضعيف)
Dari Abu
Hurairah, bersabda Nabi saw:” Sesungguhnya Alloh berfirman:” Aku adalah orang
yang ketiga dari dua orang yang bersyirkah, selama tidak mengkhianati salah
satu dari keduanya pada saudaranya. Maka ketika ia
mengkhianati pada saudaranya, maka Aku keluar dari syirkah mereka berdua.”
HR Nasai dari Abdullah bin Mas’ud:
7) عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ اشْتَرَكْتُ أَنَا وَعَمَّارٌ
وَسَعْدٌ يَوْمَ بَدْرٍ فَجَاءَ سَعْدٌ بِأَسِيرَيْنِ وَلَمْ أَجِئْ أَنَا وَلَا
عَمَّارٌ بِشَيْءٍ (سنن النسائي، تحقيق الألباني : ضعيف)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: “Saya
bersyirkah dengan ‘Ammar dan Sa’ad dalam hasil yang kami peroleh pada Perang
Badar. Kemudian Sa’ad datang dengan membawa dua orang tawanan, sedangkan saya
dan ‘Ammar datang dengan tidak membawa apa-apa”.
6) Pajak
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan manusia saling
menzhalimi satu dengan yang lainnya, Allah dengan tegas mengharamkan perbuatan
zhalim atas diri-Nya, juga atas segenap makhluk-Nya . Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا
أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman saat manusia
tidak peduli dari mana mereka mendapatkan harta, dari yang halalkah atau yang
haram”
[HR Bukhari Al-Buyu’: 7]
7) Hutang Pihutang
Melunasi hutang dengan cara yang baik
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:
8) عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
– رضى الله عنه – قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –
سِنٌّ مِنَ الإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ – صلى الله عليه وسلم – «
أَعْطُوهُ » . فَطَلَبُوا سِنَّهُ ، فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا
. فَقَالَ « أَعْطُوهُ » . فَقَالَ أَوْفَيْتَنِى ، وَفَّى اللَّهُ بِكَ . قَالَ
النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً »
Dari Abu Hurairah , ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang,
(yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya.
(Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang
seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih
berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata: “Berikan kepadanya”, Dia pun
menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah membalas
dengan setimpal”. Maka Nabi bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang
paling baik dalam pengembalian (hutang)”. (HR. Bukhari, II/843, bab
Husnul Qadha’ no. 2263.)